Senandung sang pujangga pecundang

Sungguh, saat itu mukaku memerah, meski tak terlihat olehmu. Aku malu, pada hati yang menutup rapat rasa itu. Karena janji yang terhianati, oleh otak yang terperdaya oleh emosi. Mata ini pun memerah, tergenang air yang entah datang darimana. Menetes, bersama mimpi yang kini telah pergi. Dan sengaja aku tak melihat tetesan itu, karena mataku tertutup rapat. Membiarkannya mengalir indah, meninggalkan jiwa yang teraniaya. Selamat tinggal mimpi, aku merelakanmu pergi. Melangkah bersama jiwa, yang akan membuatmu menjadi nyata.

3 Response to Senandung sang pujangga pecundang

November 14, 2008 at 6:43 AM

hohohoho.. abstrak abstrak....

angel angel..

kekekekkee...

November 14, 2008 at 7:49 AM

sengaja kang, biar gak semua orang ngerti.he......2!!!!

infa
April 24, 2011 at 9:24 AM

tp lucu jg paleng yo..........

Post a Comment