Pagi ini aku lupa, ada kajian di televisi, yang meskipun sebentar tapi sangat berarti buat aku. Tapi alhamdulillah, 10 menit terakhir aku mendapat ilmu yang luar biasa. Seorang santri kecil ditanya oleh wartawan, “kenapa kamu berpuasa daud, sedangkan kamu masih kecil?”. Santri menjawab, “ini untuk orang tua saya”. Terus bertanya lagi sang wartawan, “memang kenapa orang tua kamu?”. Santri menjawab, “tidak kenapa-kenapa, saya hanya ingin mereka masuk surga”. Wartawanpun mencari santri kecil lain, dan bertanya, “kamu rutin sholat tahajud?”. Santri menjawab, “insyaAllah iya pak”. Wartawan kembali bertanya, “Kamu
Gak terasa ( padahal yo suwe banget ) aku melewati berbagai rintangan menghadang, selama hampir 5 tahun jadi mahasiswa. Dari seorang anak kampung yang culun bin katrok bin ndeso, sampai sekarang sudah menjadi anak yang culun bin katrok bin ndeso juga ( hehehe ora kacek ).
Satu tahun kembali berlalu, kini memasuki tahun yang baru. Begitu cepat, bahkan sangat cepat. Begitu juga perubahan-perubahan yang terjadi, sangat cepat. Dari awal aku menginjakkan kaki di Yogyakarta, awalnya kelihatan sesuai dengan apa yang aku fikirkan, aman. Dan aku kira juga memang cukup aman, tidak banyak aku temukan perempuan dengan pakaian minim berkeliaran di jalan-jalan (meskipun ada).
Jangan salah terka dulu, ini bukan pertandingan, apalagi berbau kekerasan. Ini adalah waktu yang lumayan aku tunggu-tunggu, setelah kesempatan kemaren terlewati. Saat yang penting, karen tanpa ini, aku gak akan lulus, hehehehe. Kerja praktek adalah mata kuliah, atau lebih tepatnya bukan mata kuliah (tapi apa ya?????). Pokoknya itu wajib ditempuh dan wajib lulus di Jurusan Teknik Informatika, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Lengkap amat, tapi di situlah aku sekarang masih bernaung sebagai mahasiswa.
Setelah semester kemaren lewat, karena berbagai alasan yang sebenarnya gak pantes jadi alasan, tapi akan tetep jadi alasan. Semester ini akhirnya selesai juga, meskipun harus nggarap dua sekaligus, KP + TA. Dan setelah menemui Hasanudin, S.T., sebagai Dosen yang ditugasi menentukan penguji, akhrinya terjawab sudah siapa yang akan fight dengan aku, yaitu beliau sendiri, alias Hasanudin, S.T., atau lebih dikenal dengan Pak Hasan, atau juga Hasan-UAD, hehehehe.
Aku sih berharap ujian besok yang dengan judul "Me Vs Hasanudin, S.T." akan berjalan dengan lancar dan aman, tanpa ada kerusuhan, sportif, fair play dan tidak mengandung SARA (opo meneh iki???).

