Jangan salah terka dulu, ini bukan pertandingan, apalagi berbau kekerasan. Ini adalah waktu yang lumayan aku tunggu-tunggu, setelah kesempatan kemaren terlewati. Saat yang penting, karen tanpa ini, aku gak akan lulus, hehehehe. Kerja praktek adalah mata kuliah, atau lebih tepatnya bukan mata kuliah (tapi apa ya?????). Pokoknya itu wajib ditempuh dan wajib lulus di Jurusan Teknik Informatika, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Lengkap amat, tapi di situlah aku sekarang masih bernaung sebagai mahasiswa.
Setelah semester kemaren lewat, karena berbagai alasan yang sebenarnya gak pantes jadi alasan, tapi akan tetep jadi alasan. Semester ini akhirnya selesai juga, meskipun harus nggarap dua sekaligus, KP + TA. Dan setelah menemui Hasanudin, S.T., sebagai Dosen yang ditugasi menentukan penguji, akhrinya terjawab sudah siapa yang akan fight dengan aku, yaitu beliau sendiri, alias Hasanudin, S.T., atau lebih dikenal dengan Pak Hasan, atau juga Hasan-UAD, hehehehe.
Aku sih berharap ujian besok yang dengan judul "Me Vs Hasanudin, S.T." akan berjalan dengan lancar dan aman, tanpa ada kerusuhan, sportif, fair play dan tidak mengandung SARA (opo meneh iki???).

Kadang kita tidak sadar telah menduakan Allah, dengan pekerjaan, dengan kegiatan-kegiatan keduniaan kita. Tapi apakah benar kita sudah menomorsatukan Allah? dibanding dengan pekerjaan, dibanding dengan tugas, dibanding dengan kuliah?
Dengan tidak sadar kita sering menyuruh Allah, menyuruh Allah untuk nunggu. Saat Adzan berkumandang disetiap Rumah-rumah Allah, kita tenang-tenang saja dengan pekerjaan kita, dengan tugas kita, dengan kegiatan-kegiatan sehari-hari. Seakan kita bilang, "Tunggu bentar Ya Allah, aku sedang kerja. Tunggu bentar Ya Allah, aku sedang belajar. Tunggu bentar Ya Allah, aku lagi tidur". Dan dengan alasan-alasan lain, yang lebih kita utamakan daripada memenuhi panggilan Allah lewat adzan. Kadang kita lupa, kita mencari rizkinya Allah, tapi malah lupa dengan Allah. Kita mencari ilmunya Allah, tapi ilmu itu malah menjauhkan kita dari-NYA.
Jangan pernah menyuruh-NYA, tingggalkan semua pekerjaan, saat Allah memanggil kita untuk menjalankan kewajiban kita.

Dikutip dari tausiyah Ustad Yusuf Mansyur

Tak terasa sudah lima bulan tidak menyentuh sama sekali coretan kusamku, terasa tangan ini sudah kaku untuk kembali mengerti apa yang ada dalam otak, lantas melampiaskannya lewat sebuah coretan. Dan keinginan untuk mengumpulkan kata, lantas merangkainya hingga mampu menciptakan nuansa yang indah, serta mengandung arti sesuai hati.

Mungkin tak pernah terlintas sedikitpun dalam fikiranku, dulu, saat pertama cerita itu dimulai. Aku lupa, kalau setiap yang ada awal, pasti suatu saat akan ada akhir. Aku begitu menikmati alur cerita itu, menikmati semuanya. Senyum tersungging ikhlas, yang terlihat dari bibir. Gelak tawa, yang kadang membuai. Muka muram, yang membatasi tawa dan senyum. Atau ucapan-ucapan, yang membuat amarah memuncak. Aku hanya bisa tersenyum mengingatnya, karena tak ada yang bisa terulang. Sedetikpun, tak akan terulang. Karena cerita itu telah berakhir, karena waktunya sudah habis. Aku biarkan rangkaian kata yang terajut menjadi cerita itu, aku tinggalkan di sini. Tak akan aku bawa, aku benci melihat coretan-coretannya. Biarlah aku merajut kata lain, hingga tercipta cerita-cerita baru. Yang bisa membuatku selalu tersenyum, yang bisa begitu dekat denganku, hingga mengerti akan aku. Karena aku harus relakan ini, merelakan berakhirnya sebuah cerita.

Akhirnya aku tiba di ujung jalan, mengakhiri semua perjalananku selama ini. Aku sadar, ini adalah akhir dari perjuanganku, akhir dari sebuah ikhtiar untuk mendapatkan yang menurutku baik. Satu jalan telah tertutup, tidak ada sedikit celah lagi untuk bisa aku masuk. Sempat aku coba untuk tetap berdiri sejenak, berharap jalan itu akan pelan-pelan terbuka dan membiarkan aku masuk dan melaluinya. Tapi sinyal itu tak tampak, hingga aku sempat tertunduk lesu. Sampai akhirnya aku tehentak sadar, aku harus harus dan pergi dari jalan itu. Aku harus mencari jalan lain, yang dengan senyum menerima aku untuk masuk dan berjalan di jalurnya. Karena aku telah kalah, dan aku harus pergi....!!!!

Julukan sebagai si pembunuh kejam tersemat pada komputerku, gara-garanya sebenenya sepele, temen-temenku ja yang berlebihan. Berawal dari temenku Muslim yang mo ngopy lagu, yang kebetulan baru. Dia masukin flashdisknya ke hub, tapi gak connect. Tapi dia gak putus asa, dia terus mencoba dan mencoba, semangat deh pokoknya :astig:. Tapi tetep aja gak bisa, akhirnya dia nyerah:nyerah:. Terus aku berusaha tampil sebagai pahlawan, tak lanjutin perjuangan Muslim. Tak copot flashdisk-ku yang emang dah nyolok di situ, lalu tak colokin punya Muslim, tapi tetep aja gak bisa. Setelah beberapa aku nyoba, aku nyerah juga. Lantas tak colokin lagi flash-ku ke hub, dan ternyata gak connect juga. Marah, sedih, bercampur jadi satu :waaah:. Soale data-dataku ada di situ, kalo flash-ku mati bisa gawat.
Cerita berlanjut, setelah semalem aku tidur nyenyak:sleep:. Paginya datang temenku yang lain, dia denger lagu yang dia pengen punya. Langsung aja, tanpa basa-basi minta aku nuat nyolokin flash-nya ke komputer. "Gaka connect bro", kataku pas ngelihat ekspresi komputerku. Tak coba di belakang, tetep aja. Ya udah, temenku akhirnya gak jadi ngopy. Paginya dia ngomong ma aku, "flashku mati bro, kayaknya colokan usb-mu konslet tuh". "Iya po? masa?:ha?::ha?:", pura-pura bego. Huh, berarti dah tiga flash yang mati. Punyaku, dan dua temenku.
Hari berikutnya temen kosku yang ngeyel, ngeyel banget. Dia mo ngopy materi kuliah, emang dia males gak pernah masuk kuliah. Aku bilang "Kalo flshmu mati, aku gak tanggung jawab lho". "Iya", jawab dia. Temenku itu tak tinggal pergi, dia asik aja download yang ada di komputerku. Setelah aku kembali dari pergi merantau, temen kosku bilang "flashku goson bro". :scream:, aku ketawa, habis di bilangin ngeyel.
Beberapa hari berikutnya, temen kosku yang laen masuk kamarku, aku pas lagi di luar kamar. Tiba-tiba dia bilang, "Bro, kok flashku gak connect di komputermu?". Waduh, gawat nih. Aku langsung masuk kamar, dan ternyata flashnya gosong lagi. "Payah ni komputermu, tutup aja tuh colokan falshnya", kata temenku.
Berarti total ada lima flash yang mati dibunuh oleh komputerku. Aku hanya diem, mendesah panjang:sigh:. Dan tentuny minta maaf untuk semua :sorry::puppyeyes:.