Satu tahun kembali berlalu, kini memasuki tahun yang baru. Begitu cepat, bahkan sangat cepat. Begitu juga perubahan-perubahan yang terjadi, sangat cepat. Dari awal aku menginjakkan kaki di Yogyakarta, awalnya kelihatan sesuai dengan apa yang aku fikirkan, aman. Dan aku kira juga memang cukup aman, tidak banyak aku temukan perempuan dengan pakaian minim berkeliaran di jalan-jalan (meskipun ada).
Jangan salah terka dulu, ini bukan pertandingan, apalagi berbau kekerasan. Ini adalah waktu yang lumayan aku tunggu-tunggu, setelah kesempatan kemaren terlewati. Saat yang penting, karen tanpa ini, aku gak akan lulus, hehehehe. Kerja praktek adalah mata kuliah, atau lebih tepatnya bukan mata kuliah (tapi apa ya?????). Pokoknya itu wajib ditempuh dan wajib lulus di Jurusan Teknik Informatika, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Lengkap amat, tapi di situlah aku sekarang masih bernaung sebagai mahasiswa.
Setelah semester kemaren lewat, karena berbagai alasan yang sebenarnya gak pantes jadi alasan, tapi akan tetep jadi alasan. Semester ini akhirnya selesai juga, meskipun harus nggarap dua sekaligus, KP + TA. Dan setelah menemui Hasanudin, S.T., sebagai Dosen yang ditugasi menentukan penguji, akhrinya terjawab sudah siapa yang akan fight dengan aku, yaitu beliau sendiri, alias Hasanudin, S.T., atau lebih dikenal dengan Pak Hasan, atau juga Hasan-UAD, hehehehe.
Aku sih berharap ujian besok yang dengan judul "Me Vs Hasanudin, S.T." akan berjalan dengan lancar dan aman, tanpa ada kerusuhan, sportif, fair play dan tidak mengandung SARA (opo meneh iki???).
Tak terasa sudah lima bulan tidak menyentuh sama sekali coretan kusamku, terasa tangan ini sudah kaku untuk kembali mengerti apa yang ada dalam otak, lantas melampiaskannya lewat sebuah coretan. Dan keinginan untuk mengumpulkan kata, lantas merangkainya hingga mampu menciptakan nuansa yang indah, serta mengandung arti sesuai hati.
Mungkin tak pernah terlintas sedikitpun dalam fikiranku, dulu, saat pertama cerita itu dimulai. Aku lupa, kalau setiap yang ada awal, pasti suatu saat akan ada akhir. Aku begitu menikmati alur cerita itu, menikmati semuanya. Senyum tersungging ikhlas, yang terlihat dari bibir. Gelak tawa, yang kadang membuai. Muka muram, yang membatasi tawa dan senyum. Atau ucapan-ucapan, yang membuat amarah memuncak. Aku hanya bisa tersenyum mengingatnya, karena tak ada yang bisa terulang. Sedetikpun, tak akan terulang. Karena cerita itu telah berakhir, karena waktunya sudah habis. Aku biarkan rangkaian kata yang terajut menjadi cerita itu, aku tinggalkan di sini. Tak akan aku bawa, aku benci melihat coretan-coretannya. Biarlah aku merajut kata lain, hingga tercipta cerita-cerita baru. Yang bisa membuatku selalu tersenyum, yang bisa begitu dekat denganku, hingga mengerti akan aku. Karena aku harus relakan ini, merelakan berakhirnya sebuah cerita.


