Satu tahun kembali berlalu, kini memasuki tahun yang baru. Begitu cepat, bahkan sangat cepat. Begitu juga perubahan-perubahan yang terjadi, sangat cepat. Dari awal aku menginjakkan kaki di Yogyakarta, awalnya kelihatan sesuai dengan apa yang aku fikirkan, aman. Dan aku kira juga memang cukup aman, tidak banyak aku temukan perempuan dengan pakaian minim berkeliaran di jalan-jalan (meskipun ada).


Dan, Teeerreeeengggg...... Sekarang banyak banget aku temuin itu, tubuh-tubuh yang dengan bangga dipamerkan di jalan-jalan. Wow, sekarang lagi ngetrend yang setengah-setengah. Pake celana, ya yang setengah paha (bahkan kadang sampai CD kelihatan ). Pake baju, ya setengah badan ( alias puser dan ketiak kelihatan ). Bahkan pake kerudung, ya setengah ( dengan rambut poni yang menjulur nutupin dahi ). Apakah ini yang dinamakan modern..???? mungkin bagi mereka jawabannya iya, tapi bagi aku malah jadi kuno. Alias mereka kembali ke jaman purba, yang membedakan cuma yang dipakai saja. Kalau jaman purba yang dipakai daun atau kulit binatang, sekarang yang dipakai kain yang bagus.

Hanya bisa tersenyum, dan takut. Saat temenku bilang "Apakah kita juga akan mempertanggung jawabkannya nanti ?". Semoga kita tidak terlalu jauh meninggalkan aturan-aturan Allah, kembali teringat, dan berbenah......

Dia pun tersenyum sesaat, usahanya seharian ini menuai hasil. Di tangannya tergenggam bebarapa ikan yang terkulai lemas menerima nasibnya. Tapi senyum itu tak lama, sebentar saja mampir di bibir yang beberapa hari membisu. Dia pun berlari, menuju rumah kecil. Dia mengacungkan ikan-ikan itu kepada seorang Ibu di dapur, sambil berucap “ini kado buat Ibu”, Ibu itu pun tersenyum. Lantas dengan langkah pelan menghampiri, dengan tangan renta yang menjulur, seakan ingin memeluk tubuh mungil itu. Angin laut pelan berhembus, merangsek masuk ke dalam rumah, lantas keluar dengan sangat pelan. Dia pun tertunduk, tangannya yang mungil tiba-tiba lemas. Seorang Ibu yang hampir memeluknya lenyap, seakan terbawa angin tadi. Dia palingkan badannya pelan, meninggalkan rumah itu dan duduk di atas bongkahan kayu. Tempat yang sama, saat seminggu yang lalu terdengar suara merdu “nak, ikannya sudah matang”. Tapi hari ini? Kembali dia tertunduk. Tak ada lagi air yang menetes dari matanya, tak ada lagi tatapan sedih yang terpancar dari mata itu. Seakan ada yang menghalangi air mata untuk menetes, seakan terngiang kata-kata yang dulu pernah dia dengar “nak, jangan cengeng. Meskipun satu saat nanti, aku pergi meninggalkanmu, jangan teteskan air matamu”. Dia memeluk tubuh itu, dan air matanya mengalir deras di balik punggung yang renta. Tapi sekarang, tidak lagi. Sekarang dia bukan lagi anak cengeng, tidak ada lagi tetesan air yang keluar dari matanya.
Dia menatap ikan-ikan yang ada di genggaman, hampa tanpa ekspresi. Seakan-akan berucap “Setiap hari aku berikan kamu kepada Ibu, karena hanya kamu yang bisa aku berikan untuknya. Sekarang aku sendiri, Ibu telah pergi. Tapi tidak, aku tidak sendiri, masih ada kamu. Ya, masih ada kamu, yang setiap hari menemaniku. Aku tak akan pernah merasa sepi, tak akan pernah.”

Jangan salah terka dulu, ini bukan pertandingan, apalagi berbau kekerasan. Ini adalah waktu yang lumayan aku tunggu-tunggu, setelah kesempatan kemaren terlewati. Saat yang penting, karen tanpa ini, aku gak akan lulus, hehehehe. Kerja praktek adalah mata kuliah, atau lebih tepatnya bukan mata kuliah (tapi apa ya?????). Pokoknya itu wajib ditempuh dan wajib lulus di Jurusan Teknik Informatika, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Lengkap amat, tapi di situlah aku sekarang masih bernaung sebagai mahasiswa.
Setelah semester kemaren lewat, karena berbagai alasan yang sebenarnya gak pantes jadi alasan, tapi akan tetep jadi alasan. Semester ini akhirnya selesai juga, meskipun harus nggarap dua sekaligus, KP + TA. Dan setelah menemui Hasanudin, S.T., sebagai Dosen yang ditugasi menentukan penguji, akhrinya terjawab sudah siapa yang akan fight dengan aku, yaitu beliau sendiri, alias Hasanudin, S.T., atau lebih dikenal dengan Pak Hasan, atau juga Hasan-UAD, hehehehe.
Aku sih berharap ujian besok yang dengan judul "Me Vs Hasanudin, S.T." akan berjalan dengan lancar dan aman, tanpa ada kerusuhan, sportif, fair play dan tidak mengandung SARA (opo meneh iki???).

Kadang kita tidak sadar telah menduakan Allah, dengan pekerjaan, dengan kegiatan-kegiatan keduniaan kita. Tapi apakah benar kita sudah menomorsatukan Allah? dibanding dengan pekerjaan, dibanding dengan tugas, dibanding dengan kuliah?
Dengan tidak sadar kita sering menyuruh Allah, menyuruh Allah untuk nunggu. Saat Adzan berkumandang disetiap Rumah-rumah Allah, kita tenang-tenang saja dengan pekerjaan kita, dengan tugas kita, dengan kegiatan-kegiatan sehari-hari. Seakan kita bilang, "Tunggu bentar Ya Allah, aku sedang kerja. Tunggu bentar Ya Allah, aku sedang belajar. Tunggu bentar Ya Allah, aku lagi tidur". Dan dengan alasan-alasan lain, yang lebih kita utamakan daripada memenuhi panggilan Allah lewat adzan. Kadang kita lupa, kita mencari rizkinya Allah, tapi malah lupa dengan Allah. Kita mencari ilmunya Allah, tapi ilmu itu malah menjauhkan kita dari-NYA.
Jangan pernah menyuruh-NYA, tingggalkan semua pekerjaan, saat Allah memanggil kita untuk menjalankan kewajiban kita.

Dikutip dari tausiyah Ustad Yusuf Mansyur

Tak terasa sudah lima bulan tidak menyentuh sama sekali coretan kusamku, terasa tangan ini sudah kaku untuk kembali mengerti apa yang ada dalam otak, lantas melampiaskannya lewat sebuah coretan. Dan keinginan untuk mengumpulkan kata, lantas merangkainya hingga mampu menciptakan nuansa yang indah, serta mengandung arti sesuai hati.

Mungkin tak pernah terlintas sedikitpun dalam fikiranku, dulu, saat pertama cerita itu dimulai. Aku lupa, kalau setiap yang ada awal, pasti suatu saat akan ada akhir. Aku begitu menikmati alur cerita itu, menikmati semuanya. Senyum tersungging ikhlas, yang terlihat dari bibir. Gelak tawa, yang kadang membuai. Muka muram, yang membatasi tawa dan senyum. Atau ucapan-ucapan, yang membuat amarah memuncak. Aku hanya bisa tersenyum mengingatnya, karena tak ada yang bisa terulang. Sedetikpun, tak akan terulang. Karena cerita itu telah berakhir, karena waktunya sudah habis. Aku biarkan rangkaian kata yang terajut menjadi cerita itu, aku tinggalkan di sini. Tak akan aku bawa, aku benci melihat coretan-coretannya. Biarlah aku merajut kata lain, hingga tercipta cerita-cerita baru. Yang bisa membuatku selalu tersenyum, yang bisa begitu dekat denganku, hingga mengerti akan aku. Karena aku harus relakan ini, merelakan berakhirnya sebuah cerita.