seperti biasa

Seperti biasa aku bangun pagi ini bukan saat ayam jago yang menyuruhku, dengan keindahan suaranya tentunya. Juga bukan suara merdu seorang muazdin, yang menyuruh untuk bangun dan cepat- cepat meninggalkan tempat tidur. Ya, aku selalu terlambat dan gak mau untuk meninggalkan selimut hangat yang tak pergi dari tubuhku. Tapi aku bangun saat matahari hampir keluar dan memamerkan elok parasnya. Tentu masih lumayan gelap, dan masih ada kesempatan buat aku untuk menemui dan bersujud pada-NYA. Meski suara langkah orang- orang yang memenuhi panggilan, sudah terdengar pulang.

Seperti biasa saat matahari sudah tak lagi terlihat indah, karena panasnya yang membuat air dalam tubuhku enggan untuk tetap berdiam diri dan memaksa keluar lewat pori- pori kulit. Indah suara penyeru keagungan-NYA pun kembali terdengar, menghiasi telinga yang kepanasan karena tamparan dari sang penerang bumi. Tapi tubuhku tak berkutik, untuk berdiri dan memnuhi panggilan itu. Tubuhku masih asyik di depan barang mati yang mengasikkan, membuaiku dengan sentuhan lembut lewat kidung- kidung yang keluar darinya. Atau kadang telingaku dengan enaknya mendengarkan ocehan- ocehan dari yang katanya memberi ilmu (dosen), dan tak terdengar dari mulutnya saran untuk untuk segera menemui-NYA. Meski setelah itu, aku tak lupa untuk mengadu pada-NYA. Tapi tetap saja, di waktu- waktu yang tidak di sukai-NYA.

Seperti biasa saat langkah kakiku terdengar diantara deru angin yang katanya membelaiku, tapi tidak buat aku. Terdengar suara indah yang sesahutan dari rumah- rumah-NYA, kali ini bahkan terdengar sangat merdu di telingaku. Tak membuat aku bergegas menuju muara suara itu saat aku sampai di ruang kecil tempatku istirahat, malah tanganku menekan tombol untuk menghidupkan barang yang sebenarnya mati. Sekali lagi aku memilih untuk telat, saat Sang Pemberi nafas memanggilku.

Seperti biasa langit senja yang indah, mulai menghilang karena di hadang pekatnya kegelapan. Di iringi keagungan Nama-NYA yang di kumandangkan begitu keras, dan begitu menusuk dan mengetuk pintu telingaku. Kali ini aku segera berdiri, karena tau waktu yang disediakan sangat sedikit. Tapi aku enggan untuk melangkahkan kaki menuju Rumah-NYA yang terlihat dari pintu kamarku, aku memilih untuk bertemu dengan-NYA sendiri dari pada bersama- sama dengan mereka yang dengan berbondong.

Seperti biasa saat gelap sudah benar- benar menyelimuti langit, dan bintang yang terlihat tak begitu indah kali ini. Karena mungkin bintang lagi mendengarkan suara azdan yang terdengar untuk yang ke lima kalinya hari ini, begitu juga telinga ini. Sekali lagi aku tak bergeming dari teman- temanku yang sedang asik ngobrol, dan terus berceloteh tanpa mengindahkan suara Agung itu.

Seperti biasa, meski aroma serta nuansa bulan Ramadan sudah mulai terasa. Tapi tak ada perubahan dalam kehidupanku, masih seperti biasa. Ketika Allah menyuruh kita untuk menemui dan bersujud tepa waktu, aku merasa enggan dan melilih untuk telat. Lantas apakah aku pantas untuk menyebutku sebagai seorang hamba ? Atau manusia yang bersyukur ?. Dalam hati selalu ada keinginan untuk memperbaiki diri dalam ibadahku, tapi aku selalu memenangkan buaian setan untuk tak perdulikan panggilan Agung dan melakukannya di waktu yang tidak di sukai Allah. Huh, semoga dengan keagungan bulan Ramadan, membuat hati ini luluh dan menangis. Dan benar- benar menjadi seorang hamba, bukan seorang hamba yang "seperti biasa".

1 Response to seperti biasa

January 27, 2011 at 1:06 PM

nice post gan...ane juga masih telat untuk bersembahyang...mari qita sama2 menggapai ridho Allah...

Post a Comment