Tukang Sayur

Sudah beberapa hari ini aku memperhatikan seorang perempuan yang kira- kira berumur 40 tahunnan, yang sering aku lihat di samping jalan saat aku berangkat atau pulang kuliah. Didepan dia duduk, terlihat sebuah meja kecil yang diatasnya terisi beberapa jenis sayuran (hanya beberapa jenis). Sebenarnya sudah lama aku melihat dia berjualan sayuran di tempat itu, tapi mungkin aku terlalu cuek untuk memperhatikan hal- hal seperti itu. Tapi mulai tiga hari kemarin aku merasa tertarik, bukan tertarik dengan si Ibu tapi tertarik dengan apa yang dikerjakannya. Tiga hari yang lalu aku berangkat pagi karena memang harus masuk kuliah jam 07.00 ( kayak anak sekolahan aja ), pas lagi jalan aku lihat Ibu itu lagi menata dagangannya di meja yang kecil. Aku tersenyum karena dia melempar senyum duluan sambil menganggukkan kepalanya, aku terus saja melangkahkan kakiku menuju kampus karena hal seperti itu sering aku terima.

Waktu berlalu, satu mata kuliah dan satu mata praktikum sudah aku lewati. Waktunya makan siang, aku sengaja pilih warung yang deket sama tempat Ibu penjual sayur. Sambil menunggu pesanan makanan, aku melihat ke meja kecil tempat sayuran diletakkan oleh Ibu itu ( kebetulan tempat jualan si Ibu bisa dilihat dari warung). “ kayaknya sayuran yang ada di meja tetep, enggak berkurang ”, ucapku dalam hati. Dari jam 07.00 sampai jam 11.00, sayur yang dia jual kayaknya tidak terjual banyak. Azdan zduhur sudah mulai terdengar sesahutan, pas dengan habisnya makanan yang ada di piring. Aku lihat Ibu itu pun bergegas dari tempat duduknya, meninggalkan dagangannya. Hari itu aku dikampaus sampai sore, dan saat pulang aku tidak mendapati Ibu di tempat dia dagang.

Hari selanjutnya aku juga berangkat pagi, meskipun sebenarnya kuliahnya agak siang. Seperti bisanya, aku mendapati Ibu ( penjual sayur ) sudah duduk diatas kursi kecil dan menghadap dagangannya. Dari jauh aku lihat Ibu itu temenung dan entah apa yang difikirkan, tapi saat aku ada didepannya, senyum yang kemarin kembali terulang untukku. Langkah kakiku tak berhenti, sampai aku tiba di kampus. Kali ini waktu terasa lama, karena dosen pengampu tidak bisa dating. Sampai akhirnya dating waktu dzuhur, setelah sholat aku pun memutuskan untuk pulang. Dari kejauhan aku sudah bisa lihat Ibu penjual sayur itu, dan kembali aku lihat dia termenung. Dengan tatapan mata mengahadap dagangannya yang terlihat masih banyak, tapi tatapan itu kosong.

Hari itu adalah hari terakhir, sebelum aku menuliskannya di sini. Mungkin besok atau hari- hari selanjutnya, akan terjadi hal yang sama seperti hari- hari kemarin. Pagi- pagi menata dagangann, duduk termenung sambil nunggu pembeli, siangmenjelang sore dia pulang dengan membawa hasil yang mungkin tidak seberapa.

Tapi ada beberapa hal yang aku bisa lihat dari dia, dan mungkin jadi pelajaran berharga. Pertama adalah kerja keras, meskipun dia bekerja hanya dengan duduk. Tapi dia pantang menyerah untuk menunggu pembeli, yang bisa saja tidak ada. Kesabaran yang dia tunjukkan, adalah modal yang utama. Yang kedua, dia tidak mau menunjukkan kesedihan atau kesusahannya terhadap orang lain. Selalu tersenyum setiap ada orang lewat didepannya, meskipun aku sering melihatnya termenung dengan wajah yang terlihat sedih. Tapi dia tidak mau orang lain ikut merasakannya, dengan menunjukkan senyuman termanisnya. Dan yang paling penting, adalah rasa syukur. Meskipun rezki yang Allah berikan kepadanya tidak terlalu melimpah, tapi dia tetap menunjukkan rasa terima kasihnya kepada Allah dengan bergegas meninggalkan dagangannya saat adzan berkumandang.

Subhanallah, aku mendapatkan guru. Dia mengajarkan aku ilmu- ilmu yang sangat berharga, meskipun dia tidak mengucapkan sepatah katapun untukku. Ilmu yang keluar dari perangai tukang sayur, yang mungkin tingkatnya lebih tinggi dibandingkan aku dihadapan-NYA.

1 Response to Tukang Sayur

stey
November 23, 2007 at 8:15 AM

kadang kita baru tau kekurangan kita ketika melihat orang yang kekurangan tapi masih mampu bersyukur..

Post a Comment